Minggu, 11 Oktober 2015

SAINS UNDERCOVER

Tebal : 204 Halaman
Penulis : Febri Prasetyo Adi
Penerbit : Gaya Media

Berbicara mengenai sains, maka pada hakikatnya kita sedang berbincang mengenai kehidupan kita sendiri. Sebab kehidupan kita adalah sains yang paling hakiki. Sains yang erat kaitannya dengan berbagai penjelasan filosofis maupun matematis sebenarnya hanyalah usaha manusia untuk memodelkan kejadian alam/hidup kita ke dalam sebuah persamaan/rumus-rumus yang bersifat teoretis. Ada atau tidaknya sains, alam tetap akan berjalan sesuai kodratnya namun tidak demikian dengan sains. Justru karena keteraturan alam-lah ia mendapatkan inspirasi sehingga bisa merangkak, berjalan bahkan berlari.

Para cendekia dalam dunia sains identik penyebutannya dengan penemu karena mereka adalah orang-orang yang jeli dalam menemukan makna tersembunyi dalam peristiwa sehari hari. Hal tersebut dilakukan dengan dua pendekatan, pengamatan atau percobaan. Pengamatan dilakukan berhari, bulan bahkan tahun agar didapati pola apa yang terbentuk dari aktivitas keseharian alam. Sedangkan percobaan, ia adalah suatu upaya untuk menambahkan indikator lain yang akan ditambahkan pada sebuah pola teratur yang sudah baku. Berhasil atau gagalnya percobaan maka itu adalah suatu penemuan. Penemuan untuk mengetahui parameter mana saja yang tidak berjalan dan penemuan untuk mengetahui parameter apa saja yang mampu mengubah keadaan.Mereka tidak pernah gagal. Sebab dalam kamus mereka, yang dimaksud dengan kegagalan adalah saat kita berhenti melakukan percobaan.

Aktivitas pengamatan banyak dilakukan filsuf yunani sehingga jamak kita dengar filosofi ilmu dari mereka yang seakan pasti benar tanpa dilakukan pengujian terhadapnya, sedangkan aktivitas percobaan banyak dilakukan oleh ilmuwan Islam kemudian disusul bangsa eropa dan amerika kelak dikemudian hari. Hasil percobaan dirasa dapat memberikan rasa kepercayaan yang tinggi terhadap suatu teori sebab ia telah melalui metode pengujian terhadap akurasi. Akan tetapi, hasil percobaan itu jarang ada yang meleset jauh dari filosofi ilmu ala Yunani yang notabenenya mengeluarkan pernyataan tentang ilmu tanpa melakukan eksperimen. Disini keunggulan mereka.

Sains tak hanya ilmu pasti. Bahkan dalam ilmu pasti pun (Matematika dan IPA) salah satu penemuan terbesarnya adalah suatu hal yang tidak pasti, lebih dikenal dengan teori relativ-itas, relatif. Sains sebenarnya juga ilmu humaniora, medika, agro dan teknika. Hanya saja, kebetulan penulis buku ini memiliki latar belakang MIPA yang cukup kuat terutama pada bidang fisika. Alhasil buku ini banyak diwarnai oleh pemikiran – pemikiran fisikawan dan ilmuwan lain dalam bidang sejenis. Tipe sajian buku ini sangat renyah dan mudah dicerna, dibuat dengan banyak bab layaknya buku setengah isi setengah kosong dan mati satu tumbuh seribu. Tidak ada rumus rumit pada setiap halamannya yang dapat mengernyitkan dahi para pembaca. Sains pada buku ini betul-betul dibawakan secara “undercover”, yakni dibahas dengan cara dan pendekatan yang benar-benar berbeda, ditambahi dengan bumbu fiksi ilmiah.

Topik bahasan seputar man behind the gun, kloning, blackhole, alien, kegagalan sains, penyesalan Hawking, sains vs agama, peradaban menjadi melelahkan karena sains, ramalan ala sains dan lain sebagainya adalah contoh judul bab sekaligus ide utama yang ditawarkan penulis untuk pembaca.

Sains tidak selalu berujung kebaikan. Catatan sejarah mengemukakan fakta mengenai Chernobyl dan Hirosima-Nagasaki yang berujung pada kehancuran umat manusia, padahal para penemunya tidak bermaksud demikian, inilah man behind the gun dan sekaligus kegagalan sains. Kloning berdiri diatas puncak perdebatan sengit antara ilmuwan vs agamawan, sebab kloning adalah ajang pembuktian kehebatan sains bagi para ilmuwan namun menjadi momok terhadap rusaknya tatanan sosial bagi para agamawan. Di lain pihak, kita menentang ramalan, namun jika “ramalan” itu diucapkan oleh sains, maka kita mempercayainya. Sebagai contoh keberadaan alien dan juga blackhole yang sampai sekarang tidak terjamah. Ternyata dalam sains, para peramal diakomodir dalam suatu cabang ilmunya bernama Futurologi dan person-person yang ada di dalamnya disebut dengan Futuris. Mau percaya atau tidak? Terserah anda :D

Yogyakarta, 4 Oktober 2015

Wawan IM1

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.

0 komentar: